Sabtu, 21 Oktober 2017

Bantul belum perlu usulkan OP bawang merah

id bawang
Bantul belum perlu usulkan OP bawang merah
Bawang Merah (Foto Antara/Ekho Ardianto)
Bantul (Antara Jogja) - Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum perlu mengusulkan operasi pasar khusus bawang merah untuk mengatasi tingginya harga komoditas pangan itu di daerah ini.

"Memang harga bawang merah sekarang ini dilaporkan lagi mahal, namun untuk OP (operasi pasar) saya melihat belum mendesak sekali untuk diusulkan," kepala Disperindagkop Bantul, Sulistyanto di Bantul, Selasa.

Menurut dia, OP bawang merah diusulkan ke Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) jika memang bahan pokok tersebut mengalami kekurangan bahkan kelangkaan di masyarakat, kemudian harga jual di pasaran terus melonjak.

"Dalam OP bawang itu kita bisa kerja sama dengan Bulog, makanya untuk sekarang ini sedang kita pantau, kalau nanti harganya makin melonjak tidak terkendali, baru kita mengusulkan ke Bulog," katanya.

Ia mengatakan, saat ini harga bawang merah di tingkat pedagang pasar mencapai Rp27 ribu sampai Rp28 ribu per kilogram, sedangkan harga normal sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) yaitu Rp23 ribu per kilogram.

Tingginya harga bawang merah di Bantul sendiri, kata dia, karena saat ini bukan musim tanaman pangan itu, ditambah adanya gagal panen pada sebagian lahan bawang merah Bantul akibat tergenang air beberap waktu lalu juga menjadi faktor.

Sulis sapaannya mengatakan, belum diperlukannya OP salah satu bahan pokok tersebut karena menurutnya sejauh ini permintaan barang di masyarakat masih stabil, sehingga stok yang tersedia masih dapat memenuhi kebutuhan meski harganya tinggi.

"Beda dengan puasa dan jelang lebaran yang umumnya permintaan bahan pokok naik, tapi ini cenderung tidak. Artinya meskipun harga naik, tidak ada gejolak. Mungkin mendekati Natal dan Tahun Baru nanti kalau masih seperti ini kita usulkan OP," katanya.

Ia mengatakan, jika nantinya diusulkan OP bawang merah, maka realisainya juga bersamaan dengan bahan pokok lain yang masuk dalam kebutuhan strategis lainnya, misalnya minyak goreng dan gula pasir, karena bahan pokok itu biasanya harga terdongkrak naik.

"Kalau cabai kita tidak tahu, masuk dalam OP tidak. Prinsip kita sewaktu-waktu bisa mengusulkan, dan Bulog kapanpun siap. Untuk OP kita melihat kelangkaan barang dan harga mahal, tapi selama barang ada dan tidak ada gejolak, tidak perlu ada OP," katanya.
KR-HRI

Editor: Nusarina Yuliastuti

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga