Sabtu, 21 Oktober 2017

Warga Yogyakarta diminta tingkatkan kewaspadaan penyebaran DB

id db
Warga Yogyakarta diminta tingkatkan kewaspadaan penyebaran DB
ilustrasi nyamuk penyebar DBD (bengkulu.antaranews.com) (DBD)
Yogyakarta (Antara Jogja) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengingatkan warga untuk mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi merebaknya penyebaran demam berdarah karena saat ini sudah akan memasuki awal musim hujan.

"Hujan sudah mulai turun sejak beberapa hari lalu. Oleh karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan. Biasanya, demam berdarah (DB) mulai merebak mulai pekan kelima sejak hujan pertama turun," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia Kisworini di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, kewaspadaan warga dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masing-masing sehingga tidak ada nyamuk yang mampu berkembang biak untuk membawa virus penyebab demam berdarah.

"Jangan sampai ada tempat yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak. Biasanya, ada beberapa lokasi yang kerap terlewatkan saat melakukan pemberantasan sarang nyamuk, seperti ban bekas atau talang air hingga pokok bambu. Jangan sampai ada air menggenang sedikit saja," kata Fita.

Sedangkan pemberantasan nyamuk dengan "fogging", lanjut Fita, hanya akan dilakukan sebagai alternatif terakhir dan harus ada sejumlah syarat yang harus terpenuhi, seperti penularan kasus DB di wilayah tersebut.

"Dari beberapa penelitian, nyamuk yang ada di Yogyakarta sudah kebal dengan sejumlah obat yang biasanya digunakan untuk `fogging`," katanya.

Sedangkan upaya pemberantasan DB dengan penyebaran nyamuk yang membawa bakteri wolbachia di wilayah, lanjut Fita, untuk sementara dihentikan dulu sambil melalukan evaluasi terhadap daerah yang sudah dijadikan sasaran penyebaran nyamuk ber-wolbachia.

"Kami belum bisa menarik kesimpulan apakah penyebaran nyamuk membawa bakteri wobalchia tersebut memberikan dampak terhadap penurunan kasus DB atau tidak," katanya.

Namun demikian, lanjut Fita, kecamatan Wirobrajan dan Tegalrejo yang biasanya memiliki jumlah kasus DB cukup tinggi, pada tahun ini berkurang karena daerah tersebut menjadi sasaran penyebaran nyamuk mengandung bakteri wolbachia.

"Yang perlu diperhatikan adalah, musim kemarau tahun ini cukup kering sehingga dimungkinkan berpengaruh pada penyebaran DB," kata Fita.

Secara umum, lanjut dia, jumlah kasus DB pada tahun ini tercatat hanya satu per tiga dari total kasus DB pada 2016 yang tercatat sebanyak 1.706 kasus.

"Kami juga akan menyampaikan surat edaran ke wilayah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran DB." katanya.

(E013)

Editor: Nusarina Yuliastuti

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga