Sabtu, 21 Oktober 2017

Pedagang pasar tradisional jaga eksistensi melalui kirab

id Kirab grebeg pasar yogyakarta
Pedagang pasar tradisional jaga eksistensi melalui kirab
Pawai Grebeg Pasar dari Pasar Beringharjo dan berakhir di Pasar Ngasem Yogyakarta, kamis (5/10). Arak-arakan yang diikuti oleh 32 kontigen pasar yang ada di Yogyakarta ini untuk memeriahkan HUT Kota Yogyakarta. Tidak hanya kostum yang unik namun juga tiap pasar membawa gunungan yang terbuatdari prod
Yogyakarta (Antara) - Sekitar 1.000 pedagang dari seluruh pasar tradisional di Kota Yogyakarta berdandan dengan mengenakan beragam kostum untuk mengikuti kirab sebagai salah satu upaya menjaga eksistansi pasar tradisional.

"Pemerintah sangat mengapresiasi kegiatan kirab pada tahun ini yang terselenggara dengan sangat meriah. Ini menjadi bukti bahwa pasar tradisional di Yogyakarta masih menjadi bagian penting dari masyarakat dan eksistensi ini harus dijaga," kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti di Yogyakarta, Kamis.

Pasar tradisional, kata dia, memiliki keunikan yang tidak mungkin ditemukan di pasar modern, salah satunya budaya tawar menawar harga antara pedagang dan pembeli.

Namun demikian, Haryadi mengatakan, pengelolaan pasar tradisional perlu terus diperbaiki sesuai slogan pasar, yaitu "Pasare resik, atine becik, rejeki apik" (Pasarnya bersih, hatinya baik, rejekinya bagus, red.) dan ada tambahan "Sing tuku ora kecelik" (Pembeli tidak kecewa, red.).

Selain untuk menunjukkan dan sekaligus menjaga eksistensi pasar tradisional, kirab pedagang yang sudah terselenggara rutin setiap tahun tersebut, juga sebagai rangkaian untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta yang diperingati setiap 7 Oktober.

Pada tahun ini, kirab digelar dari Pasar Beringharjo menuju Pasar Ngasem dengan melewati Titik Nol Kilometer, Jalan Kyai Ahmad Dahlan, Jalan Nyi Ahmad Dahlan, dan berakhir di Pasar Ngasem.

Kirab pasar tradisional diikuti oleh 30 peguyuban pedagang. Setiap peguyuban pedagang pasar tradisional mengusung tema yang berbeda-beda namun tetap dalam balutan nuansa budaya tradisi Yogyakarta.

Sebagian besar peserta mengenakan pakaian tradisional khas Yogyakarta, yaitu kebaya atau kain lurik. Setiap peguyuban juga membawa gunungan yang berisi dagangan khas dari setiap pasar tradisional.

Gunungan tersebut diarak sepanjang rute kirab untuk kemudian diperebutkan oleh masyarakat umum yang sudah menanti di Pasar Ngasem.

Beberapa gunungan di antaranya dipenuhi dengan sayuran dan hasil bumi lainnya, bahkan peguyuban pedagang Pasar Terban membagikan 100 ekor ayam hidup kepada penonton.

"Pedagang ingin ikut berpartisipasi memeriahkan kirab yang juga ditujukan untuk memeriahkan hari ulang tahun kota," kata Panitia Kirab Pedagang Pasar Tradisional Ujun Junaedi.

Kepala Seksi Pengembangan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Endang Wahyuningsih berharap, kirab tersebut menjadi bagian dari promosi pasar tradisional sehingga tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ***3***(E013)


Editor: Agus Priyanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga